Memahami Understeer dan Oversteer


Dalam beberapa bahasan sebelumnya, kita sering mendapati istilah understeer dan oversteer. Keduanya akan kita temukan bila membahas penyetiran atau pergerakan mobil, terutama pada belokan atau tikungan.

Buat kalian yang masih bingung atau belum mengenal understeer dan oversteer ini, kita akan bahas lengkap disini. Mulai dari pengertian, penyebab, sampai kepada cara menanganinya.

Let’s begin.

Apakah Understeer dan Oversteer Itu?

Penjelasan mengenai keduanya seringkali mengingatkan saya pada tayangan Top Gear, dimana Richard Hammond menjelaskannya dengan simpel.

Understeer adalah ketika kita berbelok tetapi mobil tetap melaju lurus, lalu menabrak pohon, dan matilah kita hehe. Sedangkan oversteer adalah ketika kita berbelok tetapi bagian belakang mobil malah melintir, lalu menabrak pohon, dan matilah kita.

Begitulah pengertian keduanya secara ringkas.

Memahami Understeer dan Oversteer

Understeer

Understeer berhubungan dengan bagian depan mobil. Terutama roda depan.

Apabila roda depan slip karena mendapat beban kerja yang terlalu besar ketika berbelok, baik itu akibat melaju atau mengerem terlalu kencang. Pada saat itu roda akan kehilangan daya cengkramnya sehingga mobil akan sulit berbelok dan tetap melaju lurus.

Pada mobil dengan layout penggerak roda depan (FWD) tenaga mesin disalurkan ke roda depan yang juga merupakan roda untuk berbelok. Itulah kenapa mobil FWD akan cenderung untuk understeer.

Understeer juga menjadi salah satu alasan kenapa kebanyakan mobil memiliki layout FWD. Dibandingkan dengan oversteer, understeer memang dinilai lebih aman karena lebih mudah diprediksi dan dikendalikan.

Gejala yang muncul apabila mobil mulai terasa understeer adalah stir terasa lebih ringan, laju kendaraan ketika berbelok melebar keluar, dan terkadang muncul suara dari ban roda depan.

Oversteer

Kebalikan dari understeer, bagian belakang mobil merupakan fokus utama terjadinya oversteer.

Apabila bagian mobil belakang kita melintir lalu seakan-akan ingin ngesot kedepan, nah itulah oversteer.

Sama halnya dengan understeer, oversteer terjadi apabila roda belakang mobil slip atau kehilangan daya cengkramnya. Hal tersebut terjadi karena pengemudi melaju atau mengerem terlalu kencang ketika berbelok atau juga karena melepaskan pedal gas secara mendadak ketika berbelok (lift-off oversteer). Berbelok dengan terlalu agresif juga dapat menyebabkan terjadinya oversteer. Oversteer akan cenderung terjadi pada mobil dengan penggerak roda belakang (RWD).

Pada teknik mengemudi tingkat tinggi, kondisi oversteer ini dipertahankan sampai keluar dari belokan. Itulah drifting.

Gejala yang muncul apabila mobil mulai terasa oversteer adalah bagian belakang mobil terasa kurang stabil dan ringan karena berkurangnya daya cengkaram serta tentunya mobil mulai melintir masuk ke dalam tikungan.

Menghadapi Understeer dan Oversteer

Memahami Understeer dan Oversteer

Pada intinya penyebab utama dari understeer dan oversteer adalah hilangnya traksi (daya gesek) akibat ban slip atau kehilangan daya cengkram baik itu di depan atau belakang. Apabila itu terjadi hal yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut.

  1. Pada mobil FWD apabila kita berbelok dengan kecepatan yang terlalu tinggi dan mobil mulai understeer maka mengurangi gas akan juga mengurangi beban kerja di ban depan. Hal ini akan memulihkan daya cengkram ban tersebut. Selain itu, ketika kita mengurangi gas akan terjadi transfer beban ke depan yang memberikan tambahan daya cengkram di roda depan mobil.
  2. Mengurangi besaran sudut kemudi juga akan membantu ban depan untuk mendapatkan daya cengkramnya kembali. Jadi, stir jangan terus dibelokkan mentok tapi kurangi agar ban kembali mendapat daya cengkram. Semakin stir dibelokkan maka mobil justru semakin sulit berbelok.
  3. Jangan melepaskan seluruh gas secara tiba-tiba ketika mobil tengah berbelok. Perpindahan beban ke depan dapat membuat mobil kehilangan keseimbangan yang dapat menyebabkan oversteer (lift-off oversteer).
  4. Dibanding mobil FWD, mobil RWD lebih tahan terhadap understeer karena perbedaan peran roda penggerak (belakang) dengan roda berbelok (depan). Meskipun demikian mobil RWD terkadang akan understeer apabila dalam tikungan kita menekan pedal gas secara bertahap. Sedangkan bila kita menekan pedal gas secara agresif di dalam tikungan, maka mobil RWD akan oversteer.
  5. Sebagian besar proses pengereman idealnya dilakukan pada jalur lurus sebelum berbelok. Timing pengereman yang telat sehingga melakukan sebagian besar pengereman di belokan akan menambah beban kerja ban depan yang sedang berbelok. Apalagi ketika pengereman, beban mobil akan berada di depan. Ketika inilah understeer atau oversteer akan terjadi. Kurangi pengereman sehingga daya cengkram ban bertambah untuk dapat berbelok kembali.
  6. Oversteer dapat dikendalikan dengan melakukan counter-steering atau opposite lock. Teknik ini dilakukan dengan memutar kemudi sesuai dengan arah melintirnya bagian belakang mobil. Apabila belakang mobil ngesot ke kiri maka segeralah memutar stir ke arah kiri, dan sebaliknya apabila ke arah kanan maka putarlah stir ke kanan. Jangan lupa untuk selalu fokus dan melihat arah jalan yang ingin kita tuju, hal ini akan membantu kita menyesuaikan besaran sudut kemudi pada counter-steering.
  7. Kualitas ban merupakan salah satu faktor penting penyebab terjadinya serta penyebab berhasilnya pemulihan pada understeer maupun oversteer.

Modifikasi Mobil untuk Mengurangi Understeer dan Oversteer

Memahami Understeer dan Oversteer

Kecenderungan setiap pengemudi relatif berbeda, ada yang lebih menyukai mobil sedikit oversteer atau banyak oversteer. Atau mungkin ada juga yang menyukai mobil understeer?

Nah, selain dengan teknik penyetiran atau kontrol mobil, understeer dan oversteer juga bisa dikurangi (atau ditambah) dengan modifikasi pada mobil. Modifikasi ini terbilang modifikasi yang cukup simpel dan efektif untuk membuat handling lebih netral. Efeknya akan sangat terasa terutama pada keperluan mobil dengan kecepatan tinggi seperti mobil di track.

Berikut adalah beberapa modifikasi untuk mengurangi understeer dan oversteer.

Understeer

  1. Mengurangi tekanan udara ban depan.
  2. Melunakkan (soft) spring dan anti-roll bar depan.
  3. Menggunakan ban depan yang lebih lunak .
  4. Meningkatkan downforce di bagian depan. Bisa menggunakan air diffuser/ splitter, air dam atau modifikasi aerodinamis lainnya.
  5. Mengurangi tinggi mobil bagian depan.
  6. Menambah camber roda belakang.

Oversteer

  1. Mengurangi tekanan udara ban belakang.
  2. Melunakkan (soft) spring dan anti-roll bar belakang.
  3. Menggunakan ban belakang yang lebih lunak .
  4. Meningkatkan downforce di bagian belakang. Bisa menggunakan spoiler, wings, air diffuser/ splitter, air dam atau modifikasi aerodinamis lainnya.
  5. Mengurangi tinggi mobil bagian belakang.
  6. Menambah camber roda depan.

Demikian ulasan kali ini. Ada yang mau menambahkan atau berkomentar?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *