4 Era/ Sejarah Mobil Legendaris yang Ingin Kita Ulangi


Diantara berbagai catatan sejarah mobil, tentu ada beberapa era/ sejarah yang menjadi fenomenal dan legendaris.

Pernahkah kita teringat sebuah moment hidup yang berkesan, lalu kita merasa ingin mengulang masa-masa tersebut?

Entah itu masa kanak-kanak yang penuh petualangan, masa SMA atau kuliah yang penuh pertemanan (dan percintaan hehe). Atau moment-moment lainnya yang begitu diingat, ingin rasanya kembali ke masa tersebut.

Nah, sekarang kita akan berbicara hal yang sama dalam hal sejarah mobil atau motorsport.

Sebagian dari kita mungkin tidak mengalami era tersebut alias ga kejamanan. Tapi tetap saja, ketika kita membaca artikel atau menonton video mengenai sejarah mobil tersebut, kita akan ingin merasakan kembali era/ sejarah tersebut.

Ada beberapa hal yang membuat sejarah mobil begitu berkesan. Di masa lalu, tekhnologi mobil sedang sangat berkembang. Para produsen saling bersaing dalam meracik mobil yang ‘sempurna’. Baik itu dari mesin, design, fitur, dan tekhnologi lainnya. Ketika itu regulasi mobil belum seketat sekarang, terutama dalam hal emisi. Hal tersebut turut membuat produsen lebih fokus terhadap desain mesin yang powerful atau aspek mobil lainnya.

Begitu pun juga dalam motorsport. Ditambah dengan minimnya regulasi serta keamanan membuat era motorsport ketika itu sangat mendebarkan.

Ulasan kali ini berupa ringkasan saja. Setelah mulai menulis, ternyata ulasan ini tidak sesingkat yang dibayangkan. Panjang. Banget.

Ya memang yang namanya sejarah, biasanya panjang dan agak sayang bila diringkas hehe. Jadi lain waktu kita akan bahas lengkap perbagiannya pada ulasan terpisah. Linknya akan kita sediakan pada setiap bagiannya.

Kita mulai saja ulasannya. Diseduh dulu kopinya biar bacanya makin asik hehe.

Niki Lauda VS James Hunt: The Great Rivalry

4 Era/ Sejarah Mobil Legendaris yang Ingin Kita Ulangi

Bagaimana apabila dua pembalap bersaing keras penuh rivalitas tetapi keduanya tetap saling menghormati satu sama lain? Tentu sangat keren bukan?

Niki Lauda dan James Hunt merupakan dua pembalap Formula 1 yang sangat legendaris di era 70-an. Di track balap, keduanya bersaing habis-habisan mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi di luar track mereka saling menghormati. Dalam beberapa kesempatan mereka terlihat mengobrol santai bersama, selayaknya teman. Dalam beberapa wawancara terpisah, mereka juga seringkali memuji dan bersimpati satu sama lain.

Rivalitas tinggi namun diiringi dengan sportifitas serta sikap saling menghormati tentu merupakan sebuah hal yang sangat mengagumkan. Apalagi keduanya merupakan pembalap maestro yang kemampuan serta passion balap yang sangat tinggi.

Moment fenomenal terjadi pada Kejuaraan Dunia Formula 1 1976, ketika itu perebutan point antara kedua pembalap ini sangatlah ketat. Mereka seringkali bergantian meraih juara ke-1 dalam setiap Grand Prix. Pada pertandingan ke-10 bertempat di track yang terkenal di Jerman, Nürburgring, Lauda mengalami kecelakaan parah. Akan tetap Niki Lauda membuat sebuah comeback yang mengagumkan. Hanya 3 minggu setelah kecelakaan parah dan dalam kondisi yang belum sembuh, Lauda kembali pada track balap. Naluri dan passion balap serta rivalitas dengan James Hunt yang begitu besar membuatnya memutuskan untuk melanjutkan sesi Grand Prix. Pada jumpa pers, Lauda terlihat masih dibalut perban dan luka bakarnya masih basah. Bahkan ia pun sulit untuk berkedip karena lukanya yang belum kering. Kebayang kan betapa gigih dan kuat mentalnya? Kalo kita jangankan pasca kecelakaan parah, badan cape aja bawaannya udah males mending istirahat bobo hehe.

Pertandingan terakhir di Fuji Speedway di Jepang kembali menjadi moment penting dalam sejarah mobil Formula 1. Balapan ini menjadi puncak penentuan dikarenakan selisih point Niki Lauda dan James Hunt sangat dekat. Lauda memimpin dengan 3 point saja.

Meskipun kondisi track ketika itu sangatlah mengkhawatirkan akibat hujan yang deras, panitia tetap melanjutkan pertandingan yang disinyalir karena alasan kontrak penyiaran TV dan sponsorship. Hal tersebut membuat Niki Lauda geram. Setelah melakukan 1 lap, Lauda berhenti dan keluar dari pertandingan. Ia tidak diam melihat sisa pertandingan melainkan langsung walk out, pergi menuju bandara. Keputusannya itu terbilang berani dan idealis mengingat pertandingan tersebut merupakan penentuan juara dunia Formula 1.

Kisah fenomenal ini kemudian diangkat menjadi sebuah film sejarah mobil yang sangat menarik yaitu Rush di tahun 2013. Sudah nonton kan? Apabila belum, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Lost but won“. Kalah tapi menang. Inilah sebuah ungkapan yang sangat pas menggambarkan keputusan serta keberanian walk out Lauda pada pertandingan terakhir di Fuji Speedway. Momen ini sangatlah berkesan dan mengharukan. Kita bisa lihat dalam adaptasi momen tersebut dalam salah satu cuplikan filmya di bawah ini. One of the best racing scene.

The Death of Ayrton Senna

4 Era/ Sejarah Mobil Legendaris yang Ingin Kita Ulangi

Ayrton Senna adalah pembalap legendaris Formula 1 berkebangsaan Brazil yang seringkali disebut-sebut sebagai pembalap terbaik dan sangat berpengaruh dalam sejarah mobil motorsport. Hal ini disebabkan karena perjalanan hidupnya yang penuh drama dan tentunya skill balapnya yang luar biasa.

Kemampuan mengemudi Senna dalam kondisi hujan yang sangat memukau membuat ia mendapat julukan The Rain Man. Dalam perjalanan karirnya yang cukup singkat, Senna telah sukses menjuarai GP Monaco sebanyak 6 kali yang kemudian membuat ia disebut sebagai Master of Monaco. Kepiawaiannya dalam kualifikasi pun sangatlah cemerlang. Ia seringkali mendapat posisi start terdepan dalam balapan. Senna mencatat 65 kali posisi start terdepan dalam 162 balapan sebelum dipecahkan oleh Michael Schumacher yang mencatat 65 kali start terdepan dalam 236 balapan. Perlu dicatat bahwa mobil yang digunakan Senna tentu tidaklah se-reliable Schumacher. Ditambah Senna juga memiliki beban tekanan dari intrik persaingan sesama rekan satu tim.

Seluruh kemampuannya yang luar biasa dikukuhkan dengan 3 kali juara dunia di tahun 1988, 1990, dan 1991. Sepanjang kariernya, Senna telah memenangi 41 Grand Prix.

Rivalitas Senna dengan rekan satu timnya yaitu pembalap asal Prancis, Alain Prost sangat penuh intrik. Berbeda dengan Niki Lauda dan James Hunt, hubungan Senna dan Prost berkembang menjadi sebuah hubungan yang tidak bersahabat. Rivalitas antara keduanya tidak diwarnai keindahan sportifitas dan persahabatan. Keduanya bertarung sengit layaknya musuh besar. Pada tahun 1989 keduanya bertabrakan, Prost disinyalir sengaja menabrakan mobilnya kepada mobil Senna. Pada tahun selanjutnya yaitu 1990, mereka kembali bertabrakan. Kali ini giliran Senna yang disinyalir sengaja menabrakkan mobilnya.

Kematian Senna merupakan salah satu moment bersejarah dalam dunia motorsport. Perjalanan karirnya yang memukau ditutup dengan sangat mengejutkan. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya terjadi pada 1 Mei 1994 tepatnya di Grand Prix San Marino, Italia.

Bukan hanya kematian Senna saja, beberapa kecelakaan dan juga kematian lainnya terjadi pada Grand Prix ini. Tidak heran moment ini kemudian dinamakan sebagai hari terkelam dalam sejarah mobil Formula 1 (Blackest Day for Grand Prix Racing)

Dimulai dengan kecelakaan Rubens Barrichello yang terjadi pada saat latihan. Mobilnya melayang ke udara dan jatuh terbalik. Selanjutnya terjadi kecelakaan yang lebih fatal lagi. Pada saat qualifying, bagian depan mobil pembalap asal Austria, Roland Ratzenberger mengalami kerusakan yang mengakibatkan suspensi dan aerodinamis mobilnya terganggu. Pada lap selanjutnya, mobil Ratzenberger kemudian kehilangan keseimbangan dan menabrak tembok pembatas dengan kecepatan 310 km/jam. Ratzenberger kemudian dilarikan ke rumah sakit dan tidak lama kemudian dikabarkan meninggal karena benturan keras di kepala. Hal ini semakin menambah tekanan mental bagi para pembalap lainnya.

Di awal pertandingan, lagi-lagi terjadi sebuah kecelakaan. Mobil Pedro Lamy dari tim Lotus menabrak mobil Benetton B194 miliki Lehto yang mogok. Pecahan tabrakan tersebut termasuk roda depan mobil Lamy terbang berserakan melukai 4 penonton dan seorang polisi.

Pada awal lap ke 7, mobil Senna kehilangan kendali pada tikungan yang disebut dengan Tamburello. Mobilnya keluar jalur dan melesat lurus menabrak dinding beton tanpa penghalang. Kecepatannya saat melesat keluar jalur adalah 310 km/jam dan kemudian diketahui bahwa ada pengereman menjadi 218 km/jam ketika 2 detik sebelum mobil menabrak tembok.

Tabrakan tersebut membuat bagian depan mobil hancur berkeping-keping. Suspensi depan hancur seketika dan ban depan terbang kebelakang membentur kepala Senna. Mobil mental kembali masuk ke jalur lintasan dengan kondisi Senna yang diam tak bergerak. Dari penampakan helikopter, terlihat kepala Senna sedikit bergerak yang memberikan secercah harapan. Kurang dari 2 menit, dokter dan tim safety datang ke tempat kecelakaan. Senna pun segera diterbangkan ke rumah sakit dengan helikopter. Namun nyawanya tetap tidak tertolong, malam harinya Senna diumumkan meninggal.

Setelah pertandingan selesai, ada sebuah penemuan yang sangat menyentuh. Pada kokpit mobil Senna ditemukan bendera Austria. Ternyata Senna telah merencanakan memberikan tribute kepada Ratzenberger setelah pertandingan berakhir. Sangat ironis.

Bagi para fansnya terutama dari asal negaranya, Kematian Senna dianggap sebagai sebuah tragedi nasional. Bahkan pemerintah Brazil mengumumkan tiga hari berkabung nasional untuk memperingati kematian Senna.

Sesampainya di Brazil, jenazah Senna sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat Brazil. 17 motor polisi dan 2500 personil polisi mengawal serta mengamankan Jenazah Senna dari bandara menuju rumah duka. Diperkirakan sebanyak 3 juta orang memenuhi area rumah Senna untuk turut melayat. Luar biasa bukan? Hal ini tercatat sebagai jumlah orang terbanyak untuk berkumpul dalam melayat sebuah kematian.

Bukan hanya di Brazil. Kematian Senna juga diperingati di Jepang. Sebagaimana kita ketahui Senna meraih juara dunia Formula 1 saat bergabung bersama tim Mclaren-Honda. Selain itu Senna pun juga memiliki kedekatan dengan Jepang setelah turut mendesain salah satu mobil legendaris Jepang, Honda NSX.

Pada sesi pertandingan Formula 1 selanjutnya di Monaco, 2 grid start terdepan sengaja dikosongkan. Kedua grid tersebut dicat dengan bendera Brazil dan Austria untuk menghormati Senna dan Ratzenberger.

Cuplikan film dokumenter mengenai pertandingan terakhir dan kematian Senna dapat dilihat di bawah ini. Benar-benar sebuah momen sejarah mobil yang emosional dan memilukan.

Group B Rally: The Killer B’s

4 Era/ Sejarah Mobil Legendaris yang Ingin Kita Ulangi

Group B merupakan salah satu kategori group kejuaraan rally dunia yang pertama kali muncul pada 1982. Berbeda dengan kategori group lainnya, group B memiliki batasan aturan design dan teknologi yang lebih sedikit sehingga menghasilkan kebebasan tim produsen untuk bersaing. Pada group B, mobil juga diperbolehkan menggunakan bahan baku hi-tech, berat yang ringan serta yang paling menonjol adalah tidak ada batasan boost turbo/supercharger.

Hal tersebut kemudian menghasilkan mobil-mobil monster berpower besar yang mampu melesat dengan sangat cepat. Sebelum group B muncul, mobil rally memiliki power kisaran 250 hp. Pada group B ini power mobilnya menjadi 2-3 kali lipatnya yaitu 350-600 hp. Bayangkan saja mobil dengan power sebesar itu melesat di jalan umum non sirkuit. Untuk perbandingan, kejuaraan rally dunia saat ini, WRC memiliki batasan power sebesar 300 hp. Kebayang kan gimana dahsyatnya?

Oleh karena itu, mobil-mobil Group B dijuluki sebagai supercar di dalam hutan. Mobil dengan power besar dan teknologi tinggi layaknya supercar yang dipacu di lintasan jalan umum yang seringkali dihiasi area hutan dan tanah kasar.

Pesona group B ketika itu mampu menaikkan pamor rally di dunia motorsport. Bahkan popularitasnya mengungguli Formula 1 yang notabene sering disebut sebagai kasta tertinggi kejuaraan balap mobil. Tidak heran karena para produsen tim Group B ketika itu sangat bersaing dalam tekhnologi dan desain mobil sehingga rally sempat menjadi leader dalam hal pengembangan tekhnologi mobil.

Mobil-mobil rally legendaris yang turut serta dalam sejarah Group B diantaranya adalah Audi Quattro (600 hp), Lancia Delta S4 (550 hp), Peugeot 205 T16 (350 hp), Ford Escort RS200 (420 hp), dan MG Metro 6R4 (410 hp).

Audi Quattro merupakan mobil yang merubah rally dengan layout AWD dan turbocharger. Sebelumnya rally didominasi dengan mobil penggerak roda belakang alias RWD. 4WD dinilai terlalu kompleks dan berat untuk rally, apalagi bila ditambah sistem turbocharger. Namun Quattro membuktikan sebaliknya. Mobil ini mampu mengalahkan dan mendominasi lawan-lawannya dalam berbagai pertandingan. Pada menjelang akhir era Group B, si kecil Peugeot 205 pun tak disangka-sangka mampu mengalahkan Quattro. Hal ini berkat desain body nya yang kecil dan ramping. Lancia Delta S merupakan sebuah monster yang memadukan turbocharger dan supercharger. Mobil ini juga dikenang sebagai mobil yang mengakhiri Group B. Kecelakaan yang merenggut nyawa pengemudinya Toivonen dan Cresto, merupakan salah satu penyebab keputusan pengakhiran Group B.

Power yang terlalu besar serta pamor yang populer mengakibatkan Group B diwarnai berbagai kecelakaan. Dalam rentang waktu yang singkat,  muncul beberapa kecelakaan fatal yang melibatkan bukan hanya pengemudi tetapi juga penonton. Pamor rally yang melesat mengungguli Formula 1 tidak diimbangi dengan crowd control. Akibatnya penonton membludak sepanjang area pertandingan. Panitia kewalalahan untuk mengatur penonton dalam lintasan yang memang bukan di sirkuit. Selain itu, penonton Group B dikenal sebagai penonton yang gila dan nekad. Bayangkan saja menonton mobil berpower besar yang melesat cepat dari jarak yang sangat dekat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berlomba untuk menyentuh mobil rally yang sedang bertanding sebagai sebuah bentuk prestasi dan kebanggaan.

Pada pertandingan di Portugal tahun 1986, mobil RS200 yang dikendarai Joaquim Santos berbelok mendadak karena berusaha menghindari kerumunan penonton. Mobilnya kehilangan kendali dan menerjang para penonton. Akibatnya 31 orang terluka dan 3 orang tewas.

Kecelakaan selajutnya menimpa Lancia yang dikendarai Henri Toivonen dan Sergio Cresto. Mobilnya kehilangan kontrol dan terjun ke jurang pepohonan lalu terbakar menghasilkan kepulan asap hitam. Toivonen dan Cresto ditemukan di luar mobil. Mereka terlempar keluar dan tergilas mobil. Mobilnya pun terbakar dan hanya tersisa frame casis yang sudah menghitam.

Setahun sebelumnya Lancia pun mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa pembalap Attilio Bettega. Marc Surer, pembalap asal Swiss juga mengalami kecelakaan pada RS200 yang menewaskan co-driver-nya, Michel Wyder.

Berbagai kecelakaan tersebut kemudian membuat Federasi Automobile Internasional (FIA) memutuskan untuk mengakhiri (ban) Group B. Meskipun banyak juga kalangan yang menilai keputusan ini dipengaruhi motif politik karena pesona rally ketika itu yang mampu mengungguli Formula 1.

Apapun penyebabnya, keputusan menghentikan Group B banyak disayangkan berbagai kalangan. Bagaimanapun juga kecelakaan merupakan resiko, sebuah hal yang memang tidak dapat dipungkiri menjadi bumbu tersendiri dalam motorsport. Bukan sebuah alasan untuk menghentikan sebuah event bergengsi yang penuh adrenaline dan tentunya persaingan tekhnologi yang semakin memperkaya dunia motorsport.

90s JDM: The Golden Era of Japanese Car

4 Era/ Sejarah Mobil Legendaris yang Ingin Kita Ulangi

Ah 90an.

Bagi kids jaman old seperti saya hehe, era 90an merupakan masa dengan banyak kenangan yang memorable. Entah itu dari permainan, musik, fashion, dan gaya hidup lainnya. Bukan maksud untuk membandingkan, tapi memang terkadang ada hal-hal yang memiliki kesan dan nilai lebih di masa lalu dibandingkan masa sekarang.

Sama halnya dengan mobil. Bagi para pecinta mobil, khususnya mobil Jepang, era 90an juga dikenal sebagai masa yang memiliki nilai sejarah mobil yang tinggi. Mobil Jepang ketika itu sedang berada dalam puncak kejayaannya.

Sebelumnya, pasca perang dunia ke-2 mobil Jepang sempat dilihat sebagai produk negara yang kalah perang. Meskipun bisnis mobil mulai booming di Jepang di 1960-an, tetapi mobil Jepang sulit bersaing dengan mobil-mobil Amerika dan Eropa. Bukan hanya kalah dari tekhnologi atau fitur, tampilannya pun dinilai terlalu membosankan. Memang ketika awal mula otomotif mobil di Jepang, mobil diciptakan dengan fokus kepada aspek fungsi dan ekonomis.

Seiring waktu berjalan, Jepang mulai bergerak melebarkan sayapnya agar mobil mereka bisa diterima dan diakui oleh dunia Internasional.

Dimulai dari Toyota 2000GT yang diproduksi pada 1967-1970. Dunia otomotif internasional terpikat dengan keindahan dan performanya yang membuat mobil ini berhasil meraih predikat Japan’s First Supercar. Pada tahun-tahun selanjutnya produsen Jepang lainnya tidak ingin kalah bersaing dan berhasil memproduksi mobil-mobil klasik yang legendaris.

Persaingan antar produsen dan pengembangan tekhnologi terus berlanjut sampai era 90an yang menjadi puncak kejayaan mobil Jepang. Banyak kalangan yang menganggap era ini sebagai The Golden Era untuk sejarah mobil Jepang. Bayangkan saja, mobil-mobil ini sampai saat ini masih memiliki performa dan reputasi yang diakui di dunia otomotif dunia. Padahal sudah lewat beberapa dekade.

Berikut kita lihat beberapa contoh para JDM heroes dari era 90an tersebut.

  1. Toyota Supra
  2. Nissan Skyline GT-R R32, R33, dan R34
  3. Subaru Impreza WRX STI
  4. Honda NSX
  5. Mazda RX7
  6. Mazda MX-5
  7. Mitsubishi Lancer Evolution I-VI
  8. Honda S2000
  9. Honda Prelude Si/ SiR/ SR
  10. Toyota Chaser/ Mark II
  11. Toyota Aristo
  12. Nissan 180SX. 200SX/ Silvia S13, S14, dan S15
  13. Toyota Soarer
  14. Mitsubishi GTO (3000GT)
  15. Mitsubishi Eclipse
  16. Toyota MR2
  17. Mitsubishi Galant VR4
  18. Honda DC2 Integra Type R
  19. Honda EK9 Civic Type R
  20. Nissan 300ZX
  21. Nissan Pulsar GTI-R

Mana lagi nih yang belum masuk? Daftar diatas mobil-mobil yang kepikiran saat menulis, rasanya ada banyak masih terlewat. Ditunggu tambahannya di kolom komentar ya.

Era mobil Jepang 90an memang sangat luar biasa. Puluhan mobil-mobil sport atau street performance lahir dengan performa serta desain yang memikat. Bukan hanya itu saja. Era 90an ini bertambah sedap dengan diwarnai munculnya pop culture JDM melalui film-film balap dengan background street racing ala JDM. Sebut saja seperti Initial D, Wangan Midnight atau film seperti Thunderbolt yang dibintangi Jackie Chan. Hal ini semakin menyemarakkan dunia mobil Jepang ketika itu.

Seperti halnya sebuah masa, semuanya akan berakhir. The Golden Era berakhir setelah para produsen mobil Jepang mulai berhenti bersaing dalam membuat mobil sport atau street performance. Hal ini disebabkan para produsen merasa menghabiskan dana perusahaan untuk mobil sport/ performance tidak seuntung menjajal mobil ekonomis dengan produksi massal. Singkatnya, bikinnya membutuhkan budget cukup besar sedangkan jumlah yang dijual sedikit.

Ketika akhir 90an juga terjadi booming mobil tipe SUV yang ditambah dengan efek kelanjutan resesi ekonomi yang menyebabkan produsen mulai meninggalkan persaingan mobil sport/ performa. Beberapa kalangan lainnya menilai faktor regulasi keamanan serta emisi (Eco/green) juga turut berperan dalam mengurangi antusiasme masyarakat dan membatasi produsen terhadap pembuatan mobil-mobil bermesin gahar.

Membandingkan era 90an dengan apa yang kita lihat sekarang, produsen Jepang masih tetap fokus pada mobil ekonomis yang dapat dijual masal. Desainnya pun saya rasa sangat membosankan. Belum dari mesin dan tekhnologi yang mengarah pada efisiensi bahan bakar. Kalah dengan mobil-mobil eropa yang masih tetap kencang, sporty dan elegan. Mazda sudah lama menghentikan mobil rotary enginenya, Mitsubishi juga sudah mematikan generasi Lancer Evolution. Meskipun Nissan masih memproduksi GT-R, Honda akhirnya mengeluarkan kembali NSX, dan Toyota sudah berencana melanjutkan kembali Supra, tapi tetap saja secara overall mobil sport/ performa Jepang berkurang drastis.

Demikian ulasan kali ini. Yang mana nih yang jadi sejarah mobil favorit kalian?

Tentu masih ada lagi momen sejarah mobil yang rasanya ingin kita kembali rasakan. Kita tunggu komentar dan tambahannya ya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *