Manual atau Matik: Manakah yang Disukai Car Enthusiast?


Pemilihan transmisi manual atau matik seringkali menjadi topik pembicaraan yang menarik bagi kalangan pecinta mobil (car enthusiast). Topik ini semakin hangat ditambah dengan trending-nya fenomena penerapan tekhnologi versus konvensional, seperti pada isu bisnis dan transportasi online. Bukan hanya menjadi topik obrolan, di keseharian pun seringkali kita jumpai mobil-mobil dengan sticker “real man use three pedals”, “classy man use two pedals“, dan lainnya

Dalam hal mobil, manual seringkali dianggap sebagai transmisi konvensional yang mulai “ketinggalan jaman”. Kehadirannya kini mulai tergusur dengan transmisi matik bersama berbagai perkembangannya seperti continuously variable transmission (CVT) dan double/ dual-clutch transmission (DCT).

Sebagian car enthusiast tetap menyukai dan memuja transmisi manual dengan beberapa alasan, baik itu alasan teknis, pengalaman mengemudi, maupun alasan yang bersifat idealisme. Sebagian car enthusiat lainnya mulai hijrah dan menerima keberadaan transmisi matik yang memang performanya semakin meningkat. Bahkan di Amerika dan Eropa sana, populasi pengguna manual sudah semakin menyusut. Sampai-sampai mobil transmisi manual seringkali dibercandakan sebagai mobil anti-maling, kerena maling banyak yang tidak bisa mengendarainya hehe.

Pada ulasan kali ini, kita akan membahas fenomena “manual atau matik” dalam dunia car enthusiast. Perbedaan mengenai manakah transmisi yang lebih disukai oleh para car enthusiast cukup menarik untuk kita bahas.

Kita mulai saja. Diseduh dulu kopinya hehe.

The Manual Elitists

Manual atau Matik? Manakah yang Disukai Car Enthusiast

Seperti telah disebutkan sebelumnya, sebagian kalangan car enthusiast menyukai transmisi manual. Rasanya jumlahnya saat ini masih mendominasi dibandingkan kalangan car enthusiast yang mulai nyaman dengan transmisi matik.

Beberapa dari para pecinta manual ini termasuk ke dalam kategori garis keras. Para manual elitists.

Mereka memiliki kepercayaan bahwa transmisi manual merupakan sesuatu yang wajib untuk menikmati sebuah mobil sepenuhnya. Mobil dengan transmisi matik ibaratnya sebuah mobil yang pincang, tidak sempurna. Ketika mengetahui sebuah mobil dengan transmisi matik mereka akan berujar “Haa? Matik??” sambil mengerutkan dahi hehe.

Alasannya bisa berdasarkan teknis, pengalaman mengemudi maupun juga idealisme. Berikut diantaranya.

Teknis

  1. Matik lebih kompleks, yang berarti secara umum kurang reliable dan awet. Hal tersebut juga berarti matik membutuhkan perawatan ekstra dibanding manual.
  2. Transmisi matik lebih berat daripada manual. Meskipun saat ini tekhnologi matik sudah semakin berkembang dan tidak seberat dulu.
  3. Ketika digunakan dalam pemakaian berat atau ajang kompetisi, matik cenderung overheat.
  4. Manual lebih responsif dibanding matik. Meskipun saat ini tekhnologi matik sudah semakin berkembang terutama dalam masalah delay ini.
  5. Tekhnologi matik yang mumpuni seperti DCT saat ini kebanyakan baru diaplikasikan pada mobil-mobil modern dengan harga yang lumayan mahal. Sedangkan tekhnologi matik yang lebih umum seperti automatic dan CVT masih belum dapat menarik perhatian para pecinta manual.

Pengalaman Mengemudi (Driving Experience)

  1. Matik sesuai namanya yaitu otomatis, dinilai membosankan. Pada mobil manual, kita harus memindahkan gigi dan mengatur kopling. Seluruh proses itu dinikmati sebagai sebuah keasikan mengendarai mobil.
  2. Mobil manual memiliki kontrol yang lebih. Kita bisa menentukan RPM untuk pergantian gigi. Kita juga bisa melambatkan atau mempercepat mesin jauh lebih cepat (dan lebih keras) dibanding matik.
  3. Transmisi manual membuat kita lebih merasa terhubung, konek dengan mobil. Saat kita memindahkan gigi akan terasa getaran perpindahan gigi dan getaran mesin. Semakin banyak yang dapat kita lakukan pada saat mengendarai mobil, maka semakin kita merasa terhubung dengan mobil tersebut. Kita bisa memacu RPM mobil sampai redline, melakukan downshift rev-match, heel-toe, dan lainnya. Melakukan semua itu ibaratnya kita sedang berdansa dengan mobil. Mobil adalah partner dansa kita. Satu sama lain terhubung. Hubungan ini dirasakan sebagai sebuah hubungan yang bersifat emosional antara enthusiast dengan mobilnya.
  4. Beberapa enthusiast juga merasa bahwa pada mobil manual, pengemudi merupakan bagian dari driving system mobil. Sedangkan pada pada mobil matik yang serba otomatis, pengemudi ya hanya sekedar mengemudi.

Idealisme

  1. Mobil manual memiliki kebanggaan lebih dibanding mobil matik. Apalagi matik terkadang dibercandakan sebagai mobil cewek atau ibu-ibu.
  2. Bisa mengendarai matik belum tentu bisa mengendarai manual. Akan tetapi kalo bisa manual, sudah pasti bisa matik. Ini juga menjadi sebuah kebanggan memiliki mobil manual. Pengendara mobil manual dianggap memiliki skill yang lebih dibandingkan pengendara mobil matik.
  3. Seorang car enthusiast mengemudi bukan hanya sekedar untuk pergi dari A ke B. Bukan juga sekedar menikmati kecepatan. Tetapi juga menikmati pengalaman mengemudi. Manual dinilai memiliki keasikan pengalaman mengemudi yang jauh lebih besar dibanding matik (seperti disebutkan sebelumnya). Oleh karena itu mobil manual merupakan syarat wajib bagi true car enthusiast.
  4. Mobil manual dirasakan memiliki nilai yang lebih authentic (pure). Mobil matik dirasakan lebih “dingin” atau kurang dapet feel-nya.

The Rise of The Automatic

Manual atau Matik? Manakah yang Disukai Car Enthusiast

Dulu untuk memutuskan pemilihan antara manual atau matik merupakan perkara yang cukup simpel. Hampir dalam seluruh aspek, matik menjadi pilihan terakhir. Kecuali untuk yang ga mau cape, ga mau ribet dan ga suka ngebut? ya matik. Sisanya manual jauh lebih unggul.

Matik dulu lambat dalam akselarasi dan pergantian gigi, lebih berat dan lebih boros. Matik juga dulu hanya memiliki tiga ratio gigi, dibandingkan manual yang lima bahkan enam. Tidak heran, harga jual kembali mobil matik pun menjadi lebih terjun payung dibanding mobil manual.

Namun seiring dengan perkembangan tekhnologi, matik kini semakin perkasa. Perdebatan antara manual atau matik pun sekarang jauh lebih menarik, karena keduanya memiliki keunggulannya masing-masing.

Sekarang perkembangan tekhnologi matik seperti pada DCT memiliki kelebihan dibanding manual. Kecepatan perpindahan gigi (shift time) dan juga efisiensi BBM kini lebih unggul dibanding manual yang mulai disebut sebagai tekhnologi kuno. Pada mobil-mobil sport, shift time ini bisa sampai dalam hitungan milisecond. Bahkan pada Bugatti Veyron, shift time-nya hanya 8 ms . Kebayang kan gimana cepatnya itu ganti gigi?

Dengan shift time yang cepat, distribusi tenaga (power flow) dari mesin terus terjaga, tidak terputus-putus seperti pada manual. Inilah yang membuat mobil matik dengan tekhnologi seperti DCT bisa melaju lebih cepat pada dibanding mobil manual.

Keunggulan dari aspek teknis tersebut membuat matik menjadi trend yang meningkat dari tahun ke tahun. Kini tidak sedikit kalangan car enthusiast yang mulai mau mencoba dan kemudian beralih menggunakan matik.

Selain penyebab di atas, berikut beberapa alasan lainnya car enthusiast mulai menggunakan matik.

  1. Speed alone is enough. Seperti telah disebutkan sebelumnya matik kini memiliki shift time yang lebih cepat daripada manual. Responnya pun sudah jauh lebih baik. Bagi beberapa enthusiast, kecepatan merupakan faktor utama bagi kenikmatan pengalaman mengemudi. Mereka tidak terlalu mementingkan pengalaman mengemudi lainnya. Yang penting cepat.
  2. Pada mobil dengan turbocharger, shift time yang cepat juga membantu mempertahankan boost di saat jeda perpindahan gigi. Oleh karena itu matik dapat mengurangi delay (lag) turbo serta memiliki proses putaran turbo (turbo spool) yang lebih cepat. Tidak sedikit enthusiast yang beralih kepada matik karena hal ini.
  3. Beberapa tipe matik juga dilengkapi dengan fitur mode semi automatic sehingga pengemudi bisa mengganti gigi tanpa menggunakan kopling. Sama seperti motor bebek. Hal ini menutupi kekurangan matik dimana matik dinilai kurang memiliki kontrol dan terhubung dengan pengemudi.
  4. Mobil matik dinilai lebih berkelas karena adapt dengan tekhnologi otomotif terkini. Hampir seluruh mobil-mobil sport dan supercar terbaru memang menggunakan transmisi matic.
  5. Tidak semua car enthusiast tinggal di tempat yang nyaman untuk mengendarai mobil. Kemacetan jalan yang terus meningkat seringkali semakin terasa menjemukan apabila ditambah dengan pegalnya kaki akibat mengendarai mobil manual. Keunggulan tekhnologi matik yang telah dipaparkan sebelumnya kini menjadi semakin menarik bagi para enthusiast tersebut.

Manual atau Matik: A Matter of Preference

Manual atau Matik? Manakah yang Disukai Car Enthusiast

Sampailah kita di pertanyaan yang menjadi judul ulasan ini. Manual atau matik, manakah yang disukai car enthusiast?

Apabila kita melihat secara teknis, matik kini jauh lebih unggul dibanding manual. Transmisi matik saat ini sudah menjadi tekhnologi yang melekat pada berbagai jenis mobil, bahkan pada mobil-mobil sport dan supercar. Kecepatan Nissan GT-R tidak dapat dipungkiri bukan hanya berkat power dari mesinnya, melainkan juga berkat tekhnologi DCT.

Bagaimana apabila Nissan membuat Nissan GT-R versi manual?

Sudah dapat dijamin, kecepatannya akan dibawah Nissan GT-R dengan DCT. Kecepatan berbelok akan berkurang, kecepatan pada jalur lurus akan berkurang, dan lap time pun akan berkurang. Shift time dari DCT tidak dapat ditandingi bahkan oleh sekelas pembalap profesional sekalipun.

Satu-satunya yang belum dapat dikalahkan oleh matik adalah driving experience. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, keasikan mengemudi manual tidak dapat disejajarkan dengan mobil matik. Pada mobil manual, pengemudi merasa lebih terhubung serta memiliki kontrol dengan mobil kesayangannya. Pengemudi bukan hanya sekedar mengemudi, tetapi menjadi bagian dari driving system mobil.

Meskipun tetap saja, tidak sedikit juga enthusiast yang memang menjadikan kecepatan sebagai faktor utama dalam driving experience-nya.

Pada akhirnya, jawabannya memang kembali lagi pada pribadi masing-masing. Manual atau matik akan menjadi pilihan berdasarkan kesukaan dan kenyamanan pengemudi itu sendiri.

Demikian ulasan kali ini. Bagaimana nih menurut kalian? Pilih manual atau matic? Mana yang jadi alasan utama kalian memilihnya?

Untuk ulasan dan bahasan mobil menarik lainnya, ikuti juga Instagram kita ya!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *