5 Mitos Mobil yang Masih Sering Dipercaya Orang


Berbicara mengenai mobil terkadang kita akan menemukan mitos mobil yang selayaknya sebuah mitos, hanyalah informasi yang kurang tepat.

Mitos merupakan sebuah kepercayaan yang beredar luas namun kebenarannya tidak sesuai dengan fakta ilmiah. Biasanya sih mitos ini beredar dari cerita mulut ke mulut. Nah, karena banyak yang mengutarakan hal yang sama, mitos tersebut lama kelamaan akhirnya menjadi hal yang diyakini kebenarannya.

Uniknya, mitos ini baru bisa dikatakan mitos apabila memang sudah ada penelitian atau pembuktian akan kebenarannya. Rasanya berbagai aspek kehidupan tidak lepas dengan hal yang mengandung mitos. Termasuk dalam dunia otomotif yang dalam bahasan kali ini adalah mitos mobil.

Mitos mobil ini baiknya kita ketahui, karena kepercayaan terhadap sebagian mitos mobil ini dapat mengakibatkan kesalahpahaman yang berujung kerugian bagi kita.

Mau tau kan, apa saja mitos mobil tersebut?

Kita mulai saja. Siapkan kopinya hehe.

Pertamax Dapat Membuat Mesin Lebih Bertenaga dan Bersih

mitos mobil

Bahan bakar premium (bukan premium bensin ya) seperti Pertamax, Pertamax Plus atau bahkan Pertamax Turbo dipercaya lebih bersih sehingga mudah terbakar. Menggunakan jenis bahan bakar tersebut diyakini membuat proses pembakaran lebih efisien yang kemudian dapat meningkatkan tenaga mesin.

Beberapa orang lainnya ada juga yang menganggap angka oktan adalah ukuran kualitas bahan bakar. Semakin besar angkanya maka semakin bersih (pure) pula bahan bakar sehingga membuat mesin lebih awet.

Ini adalah anggapan yang kurang tepat.

Seperti kita ketahui, campuran udara-bahan bakar akan dikompresi di dalam silinder mesin. Kompresi tersebut kemudian akan diledakkan oleh busi. Nah, angka oktan adalah rating yang menunjukkan seberapa besar ketahanan suatu bahan bakar untuk dikompresi sebelum dibakar. Semakin tinggi maka semakin besar juga ketahanannya dalam kompresi tinggi.

Penggunaan bahan bakar dengan oktan yang rendah pada mesin berkompresi tinggi merupakan salah satu penyebab knocking. Knocking terjadi karena bahan bakar yang dikompresi terbakar tidak sempurna. Singkatnya terjadi dua atau lebih titik ledakan dalam proses pembakaran oleh busi. Efeknya bisa mengurangi performa atau bahkan merusak mesin.

Lalu bagaimana bila mesin kita bukan merupakan mesin kompresi tinggi? Penggunaan bahan bakar premium adalah hal yang sia-sia. Gunakanlah bahan bakar sesuai dengan anjuran manual book kendaraan kita. Apabila oktan 88 ya gunakan Premium (bensin, susah dari tadi ketuker-tuker haha), apabila oktan 92 ya gunakan Pertamax.

Menggunakan bahan bakar oktan tinggi pada mesin berkompresi rendah tidak akan menambah tenaga. Kita hanya termakan sugesti dan membuang-buang uang.

Lembaga Perlindungan Konsumen Amerika sudah pernah membuat pernyataan resmi untuk menghilangkan kekeliruan pengisian bahan bakar. Silahkan dibaca disini.

Mesin Harus Dipanaskan Dulu Sebelum Digunakan

mitos mobil

Betul. Mesin memang harus dipanaskan dulu sebelum digunakan.

Lho? Lalu mitosnya dimana?

Ya dipanaskan bukan berarti dibiarkan diam idle sampai panas baru dijalankan. Coba kita pikir lagi baik-baik. Mesin setelah dinyalakan itu sudah aktif digunakan/ bekerja. Mau dipake jalan atau idle ya sama saja bukan? Ya selama kita tidak langsung tancap gas maka kendaraan kita akan baik-baik saja. Nyalakan mesin dan panaskan mobil dengan melaju perlahan 5 sampai 10 menit.

Oli mobil dan beberapa komponen mobil lainnya memang membutuhkan waktu sampai bisa bekerja optimal. Akan tetapi memanaskan dengan mendiamkan mobil sampai panas baru digunakan ini membuang-buang bensin dan waktu. Terkecuali bila mobil kita bermesin karburator yang memang membutuhkan pemanasan idle sebelum bisa melaju dengan optimal.

Departemen Energi Amerika mempunyai sebuah artikel mengenai pemanasan idle (idling) ini, silahkan cek disini.

Menggunakan HP di SPBU Dapat Mengakibatkan Ledakan

mitos mobil

Ngeri bener ya? Pake HP di SPBU bisa meledak.

Pada sebagian besar SPBU larangan ini masih berlaku dan juga tertera pada mesin pengisian bahan bakar. Namun apakah benar seperti demikian?

Larangan ini didasarkan pada ketakutan terhadap radiasi elektromagnetik dari HP yang dikhawatirkan dapat menghasilkan energi yang mampu menyalakan uap gas bahan bakar.

Namun sebuah studi penelitian terhadap 243 SPBU di dunia menunjukkan bahwa selama tahun 1994 sampai 2005 tidak pernah ada kecelakaan yang disebabkan HP. Bahkan tidak pernah sekalipun juga dilaporkan adanya kasus yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dari HP.

Pada kenyataannya bahkan panas dari rokok pun tidak cukup untuk bisa menyalakan uap bahan bakar. Diperlukan sebuah sumber api yang murni atau percikannya untuk menyalakan uap gas bahan bakar. HP dengan tegangan listrik yang lemah dari baterai nya tidak mampu melakukan itu.

Apabila masih belum percaya, sebuah acara dari Discovery Network yaitu Mythbusters pernah menayangkan episode untuk percobaan mitos ini. Hasilnya? Ya hanya sekedar mitos. Silahkan dilihat disini. Federasi Komunikasi Amerika pun telah memberikan pernyataan resmi bahwa tidak pernah ada sekalipun juga kasus ledakan yang disebabkan penggunaan HP di SPBU. Pernyataan tersebut bisa dilihat disini.

Nah sudah jelas kan. Jadi kita tak perlu ragu lagi untuk menggunakan HP di SPBU. Kalo ada yang menegur, suruh baca ulasan ini saja hehe.

Ukuran Ban yang Besar Dapat Menambah Kecepatan

mitos mobil

Ban dengan ukuran yang besar memang memiliki beberapa kelebihan seperti lebih stabil, lebih memiliki area grip, tetapi menambah kecepatan bukanlah salah satunya.

Anggapan ini entah berawal darimana. Apakah karena mobil-mobil sport menggunakan ban yang besar atau karena ban besar menambah efek gagah sehingga dipercaya dapat membuat mobil bisa melaju lebih cepat.

Faktanya, ban yang besar justru mengurangi akselarasi. Bahkan ban besar dengan menggunakan velg berbahan berat dapat menambah beban dan mengurangi performa mobil.

Kecepatan mobil terutamanya bergantung pada mesin. Mobil-mobil sport memerlukan ban yang besar agar dapat lebih stabil ketika melaju kencang. Selain itu dengan ban besar, area cengkraman ban pada jalan bertambah sehingga energi yang besar dari mesin dapat disalurkan ke jalan dengan lebih optimal.

Portal otomotif mobil yang populer, caranddriver pernah mengadakan penelitian mengenai hal ini. Mereka mengetes VW Golf 2010 dengan 5 jenis ukuran diameter ban yaitu 15 inchi sampai 19 inchi. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin besar ban maka akselarasi dan fuel economy semakin berkurang.

Kesimpulannya, apabila mesin mobil kita masih standar maka pilihlah ukuran ban yang tidak terlalu besar. Kecuali kalo kita memang lebih mementingkan penampilan dibanding performa dan kenyamanan.

Menambah Batas Kecepatan Maksimal Akan Menambah Angka Kecelakaan

mitos mobil

Ini mitos yang melandasi aturan pemerintah dalam hal kecepatan kendaraan di jalan. “Dengan batas kecepatan blablabla diharapkan angka kecelakaan blablabla”. Ya seperti itulah pernyataan dari pak polisi atau pemerintah ketika menjelaskan aturan batas kecepatan kendaraan.

Pernyataan tersebut merupakan pernyataan yang keliru, karena tidak ada korelasi kuat antara kecepatan dengan kecelakaan. Penyebab utama kecelakaan yang telah terbukti adalah tidak berkonsentrasi, mengantuk, pecah ban, kelebihan muatan, mengemudi ugal-ugalan, rem atau komponen mobil yang tidak berfungsi, dan lainnya.

Hampir sebagian besar pengemudi tidak akan melaju lebih cepat dari kecepatan yang nyaman dan aman. Jadi meskipun batas kecepatan maksimal naik menjadi 140 km/jam, orang tetap akan melaju pada kecepatan yang menurut mereka aman dan nyaman. Tidak akan juga sebagian atau seluruh pengemudi akan serta merta memacu kendaraannya di 140 km/jam.

Sebuah studi justru menunjukkan bahwa hampir sebagian besar kecelakaan terjadi pada zona kecepatan rendah dibanding pada zona berkecepatan tinggi. Hal ini dikarenakan pada zona kecepatan tinggi, pengemudi akan lebih berkonsentrasi dan berhati-hati. Sedangkan pada zona kecepatan rendah, pengemudi lebih cenderung lalai.

Di Amerika sana, tepatnya di New York, Setelah adanya kenaikan batas kecepatan maksimum menjadi 65mph (104 km/jam) angka kecelakaan justru berkurang 4%. Ulasan lengkapnya bisa kita baca disini.

Jadi intinya penambahan kecepatan maksimal tidak akan semerta-merta menambah angka kecelakaan. Karena memang banyak faktor lain yang lebih utama yang lebih sering menyebabkan kecelakaan. Tapi memang kecelakaan pada kecepatan tinggi jauh lebih fatal dibanding pada kecepatan rendah.

Demikian ulasan kali ini. Sebenarnya masih banyak lagi mitos mobil lainnya, tapi kita sisakan saja untuk kolom komentar hehe.

Untuk ulasan dan bahasan mobil menarik lainnya, ikuti juga Instagram kita ya!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *