TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

TRD, Nismo, Mugen tentu sudah tidak asing lagi. Nama in-house tuner ini seringkali menjadi penghias berbentuk stiker yang menempel pada mobil-mobil di jalanan. Sebagian lainnya dapat kita jumpai berbentuk badge logo yang menempel pada body mobil.

Nama atau brand in-house tuner tersebut identik dengan racing dan modifikasi. Lebih tepatnya racing atau modifikasi Jepang atau gaya JDM. Itulah kenapa orang menempelkan stiker atau badge tersebut, yaitu membuat mobil terlihat lebih sporty atau seperti mobil racing.

Tapi, tidak sedikit juga orang yang salah kaprah.

Banyak orang yang salah memasangnya tidak sesuai dengan merk mobilnya. Padahal masing-masing in-house tuner memiliki peruntukkan merk nya masing-masing. Ya meskipun mereka sudah tahu bahwa TRD, Nismo, Mugen dan semacamnya itu adalah untuk mobil Jepang. Rasanya jarang ada mobil non-Jepang, semisal mobil Jerman yang khilaf memasangkan atribut ini.

Eh- tapi ada juga memang mobil non-Jepang yang kadang saya lihat memasangkan stiker atau emblem in-house tuner Jepang.

Mobil Korea alias Hyudai atau KIA, hehe.

Lalu, apakah in-house tuner itu?

In-house tuner adalah modifikator resmi atau official dari sebuah merk mobil. Bentuknya bisa berupa divisi dari perusahaan ataupun berupa anak perusahaan.

Tujuan utama In-house tuner adalah untuk membuat model performa dari sebuah tipe mobil. Mobil produksi akan dimodifikasi untuk menaikkan speknya, baik itu berupa peningkatan performa mesin, braking, aero, fitur-fitur, sampai ke eksterior. Targetnya adalah konsumen yang memang menyukai mobil performa atau menginginkan mobil yang speknya diatas mobil produksi normal.

Kelebihan in-house tuner tentu karena merupakan official modifikator mereka memiliki ‘originalitas’ dari brand resmi serta kualitas yang profesional. Selain itu in-house tuner juga memiliki garansi dan customer service layaknya mobil resmi pabrik.

Selain itu, beberapa in-house tuner juga menjadi divisi ataupun support untuk keperluan perusahaan pada ajang kompetisi ataupun kejuaraan balap mobil.

Nah, pada mobil Jepang tadi kita sudah sebutkan beberapa in-house tuner seperti TRD, Nismo, dan Mugen. Tentu masih ada yang lainnya sesuai merk mobilnya masing-masing yang akan kita bahas di ulasan kali ini.

Kita mulai saja. Siapkan kopinya.

Toyota – TRD

TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

Toyota merupakan produsen mobil Jepang pertama yang turut serta dalam kancah kejuaraan motorsport dunia. Mereka telah mulai ikut serta dalam kejuaraan balap mobil sejak 1957 melalui divisi racingnya yang bernama Tosco. Pada tahun 1973, Toyota mulai tertarik untuk mengembangkan pasar baru yaitu mobil performa. Tosco pun berubah menjadi Toyota Racing Development (TRD). Tujuan dari divisi ini pun bertambah. Selain tetap ikut serta pada ajang balapan, mereka juga mulai mengembangkan dan menjual produk-produk performa.

Saat ini TRD masih terus aktif dalam ajang balapan sebut saja semisal kejuaraan IMSA GT, NASCAR, Formula Drift, dan lainnya. Mereka juga terus mengembangkan dan menjual berbagai produk-produk performa seperti supercharger, suspensi, brake kits, exhaust, air-intake, dan velg.

Kesini-sininya TRD ini bahkan juga memproduksi dan menjual produk-produk non-performa. Ya seiring makin populer, namanya juga bisnis, hehe. Produknya berupa asesoris atau yang bersifat ke styling misalnya karpet mobil, tutup oli atau shift knobs. Mereka juga menjual baju, topi, sweater, stiker, sampai ke hiasan boneka!

Mungkin kita pernah juga melihat yang namanya TOM’S. Berbeda dengan TRD, TOM’S ini merupakan perusahaan yang bukan Toyota. TOM’s merupakan workshop tuning yang sejak 1974 menjadi partner Toyota dalam pengembangan mobil performa ataupun mobil kejuaraan motorsport.

TRD USA
TRD JAPAN

Nissan – Nismo

TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

Namanya dikenal luas terutama melalui tentunya mobil sport andalan Nissan, The Godzilla, GT-R. Dari mobil monster Jepang inilah nama Nismo mulai dikenal ke masyarakat luas.

Awalnya dulu ada sebuah workshop dan produsen mobil bernama Prince Motor Company. Pada 1964, mereka menyadari bahwa penjualan bisa ditingkatkan melalui mengikuti event-event kejuaraan balap. Mereka kemudian mulai mengembangkan mobil Nissan, memodifikasinya lalu ikut serta dalam kejuaraan balap mobil.

Dua tahun kemudian yaitu di 1966, Nissan membeli Prince. Nissan melihat peluang yang sama untuk meningkatkan penjualan melalui partisipasi dalam berbagai kejuaraan balap mobil. Prince Motor Company pun diubah menjadi 2 buah divisi performa. Satu divisi bertugas sebagai pabrik, dan satu divisi lainnya menangani perakitan sesuai permintaan pelanggan.

Kedua divisi tersebut bernama Oppama Works dan Omori Works.

Pada September 1984, Nissan memutuskan untuk menyatukan kedua divisi performa ini menjadi satu anak perusahaan. Lahirlah Nissan Motorsport Internasional Co. Ltd yang disingkat Nismo.

Apabila kita perhatikan huruf ‘o’ pada Nismo memiliki warna merah yang berbeda dengan huruf lainnya. Saya rasa ‘o’ merah ini melambangkan Oppama Works dan Omori Works.

Selain memodifikasi spek performa seperti pada Nissan GT-R, 370Z, Sentra dan Juke, Nismo juga mengembangkan dan menjual berbagai part performa. Sebut saja seperti aero, velg, suspensi, part-part mesin, part-part kaki-kaki, sway bar, exhaust system, dan lainnya. Nismo juga menjual berbagai asesoris dan apparel sampai ke handphone stand!

Selain memproduksi produk performa, tentunya Nismo juga ikut serta dalam berbagai kejuaraan balap mobil. Mereka juga memiliki driving academy yang pernah ramai ketika menyekolahan top gamer Gran Turismo untuk menjadi pembalap sungguhan. Nissan juga memerintahkan Nismo untuk membuat Nismo Heritage Program. Nismo akan mengembangkan dan memproduksi ulang part-part mesin lawas untuk tetap menghidupkan heritage kebesarannya seperti pada mesin RB26DETT.

NISMO USA
NISMO JAPAN

Honda – Mugen

TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

Berbeda dengan in-house tuning lainnya, Mugen ini bukanlah divisi dari Honda. Mereka juga bukanlah anak perusahaan Honda. Mugen merupakan perusahaan yang berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan Honda. Lalu kenapa mereka bisa menjadi in-house tuning dari Honda?

Mugen memiliki kedekatan yang spesial dengan Honda. Pendirinya adalah Hirotoshi Honda, anak dari founder Honda, Soichiro Honda.

Like Father, like son. Hirotoshi ini juga menyukai otomotif dan mekanikal. Bedanya dia senang dengan performa dan balap. Saat dia kuliah dia sudah mulai membangun mobil balap sendiri di workshop bapaknya. Tidak lama kemudian, veteran pembalap yang bekerja sebagai R&D Honda, Masao Kimura ikut membantunya. Hirotoshi pun kemudian mendirikan Mugen yang berarti “tanpa batas” (without limit/ unlimited). Mugen seringkali mencantumkan Power dibelakang namanya, sehingga menjadi Mugen Power yang artinya kekuatan tanpa batas.

Kiprah Honda dalam motorsport disalurkan melalui Mugen. Perusahaan ini sudah mengikuti berbagai jenis kejuaraan seperti Formula One, Formula Two, Super Formula, World Touring Car Championshop, Super GT, dan lainnya. Di Formula One Mugen sudah lama dikenal sebagai penyuplai mesin. Bahkan Mobil legendaris MP4/4 yang dikendarai Ayrton Senna dan Alain Prost menjadi bukti nyata kehebatan Mugen. Mobil ini adalah mobil yang paling mendominasi di dalam sejarah F1!

Mugen memproduksi berbagai part performa untuk mobil Honda. Mulai dari brake kit, aero, part mesin, kaki-kaki, exhaust, velg, interior bahkan sampai baut, tutup oli dan oli mesin. Mereka juga mengembangkan dan menjual berbagai part performa untuk motor-motor Honda.

Pada 2003, Hirotoshi terjerat kasus penghindaran pajak, yang membuat perusahaan ini mengalami perombakan. Pada 2004 Mugen berganti nama perusahaan menjadi M-TEC Co., Ltd.

MUGEN / MTEC-POWER

Subaru – STI (Subaru Tecnica International)

TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

Ingat Subaru, ingat rally. Mungkin tidak sedikit yang belum tahu Subaru itu dulunya perusahaan yang bikin part-part pesawat. Sampai sekarang pun mereka masih memiliki divisi yang khusus menangani pesawat.

In-house tuning dari Subaru tentu sudah tidak asing lagi, STI, yang merupakan singkatan dari Subaru Tecnica Internasional. Divisi ini dibentuk pada 1988 dengan misi mengikuti event-event balap dan juga pengembangan serta penjualan part-part performa untuk Subaru.

Baru setahun dibentuk divisi performa ini langsung unjuk gigi. Mereka memecahkan rekor ketahanan kecepatan tinggi. Subaru Legacy generasi pertama berhasil menempuh 100.000 km dalam 447 jam dengan kecepatan rata-rata 223 km/jam!

Untuk event balap tentu sudah tidak diragukan lagi. Nama STI sudah lama bersinar di kejuaraan rally dunia. Puncaknya yaitu ketika Colin McRae dengan Impreza 555 berhasil menjuarai WRC berturut-turut pada 1995, 1996, dan 1997.

Sama halnya dengan Nismo, TDR, Mugen dan in-house tuning lainnya, STI pun juga menjual berbagai part-part performa sampai juga tentunya complete car. Yang unik STI (dan Subaru) ini menjual berbagai macam apparel dan produk non car related. Uniknya dimana? Mereka menjual bukan hanya jam, baju topi dan lainnya, tapi sampai ke baju bayi, gelas bahkan sendok!

SUBARU TECNICA INTERNASIONAL (STI)

Mazda – Mazdaspeed

TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang

Anak perusahaan Mazda awalnya adalah divisi balap dengan nama Mazda Sports Corner. Salah seorang karyawannya yang juga merupakan pembalap bernama Takayoshi Ohashi melihat potensi pengembangan Mazda ke arah motorsport. Ia pun mengajukan ide tersebut dan kemudian direstui untuk membuat Mazda Sports Corner pada 1967.

Sesuai namanya, Mazda Sports Corner ini benar-benar fokus utama pada balap motorsport. Meskipun pada awalnya mereka tidak terlalu banyak menorehkan prestasi yang gemilang tetapi mereka ini sangat gigih dan konsisten untuk terus mengembangkan performa dan prestasi mereka.

Sampailah pada 1983, Mazda memutuskan untuk ikut serta dalam kejuaraan bergengsi dunia, Le Mans. Untuk keseriusan ini Mazda memanggil Mazda Sports Corner untuk bergabung satu gedung alias satu markas dengan mereka. Bukan hanya itu, mereka memutuskan untuk juga mengganti nama menjadi Mazdaspeed.

Kegigihan mereka selama lebih dari 20 tahun akhirnya berbuah manis. Mobil legendaris yang sangat dikenal dengan suara ‘merdu’nya, Mazdaspeed 787B berhasil menjuarai Le Mans pada 1991. Sebuah prestasi yang sangat menakjubkan mengingat inilah pertama kali produsen Jepang memenangkan kejuaraan penuh prestise ini. Prestasi ini terus bertahan sampai 27 tahun kemudian Toyota akhirnya bisa menjuarai Le Mans pada 2018.

Mazda baru mulai mengembangkan Mazdaspeed untuk pasar komersil pertama kali di 2003. Sayangnya produk mereka tidak terlalu populer alias kurang laku di pasaran. Mazdaspeed Protege, lalu Mazdaspeed MX-5 dan kemudian Mazdaspeed 6 hanya bertahan tidak lama sampai akhirnya dihentikan produksinya.

Mazdaspeed 3 kemudian agak lebih baik penjualannya tetapi itupun hanya bertahan 2 generasi sampai akhirnya Mazda memutuskan untuk menghentikan produksinya. Sepertinya Mazda ini target atau positioning marketnya memang tidak ke arah varian performa.

Tidak seperti TRD atau misal Mugen, orang sepertinya tidak akan salah kaprah memasang stiker atau emblem Mazdaspeed pada bukan mobil bukan Mazda hehe.

MAZDASPEED STORE (Independent retailer)
MZRACING

Mitsubishi – Ralliart

Ralliart seperti makna namanya The Art of Rallying, berawal dari rally. Mitsubishi, seperti rival senegaranya Subaru, memang dibesarkan di kancah rally dunia. Pendiri Ralliart adalah Andrew Cowan, pembalap Mitsubishi asal Inggris yang di era awal Mitsubishi mengikuti kejuaraan telah banyak memberikan sumbangsih kemenangan skala internasional.

Pada 1983, Mitsubishi meminta Andrew Cowan untuk mendirikan divisi balap sebagai pusat aktifitas balap Mitsubishi di Eropa. Ia pun mendirikan Cowan Motorsports (ACMS) yang kemudian berkembang menjadi perusahaan bernama, Mitsubishi Ralliart Europe. Tidak lama kemudian, rekan satu timnya menerima lisensi dan membuka cabang Ralliart Australia.

Tidak seperti in-house tuner lainnya semisal TRD atau Nismo, yang terlibat dalam pengembangan versi performa untuk mobil komersial. Ralliart ini fokus utamanya pada motorsport baik itu rally, touring ataupun dakkar. Memang ada beberapa mobil versi Ralliart tetapi jumlah sangat terbatas, sebut saja seperti Lancer Ralliart. Itupun dibuat tidak benar-benar versi performa, karena spek Lancer Ralliart ini dibuat tidak menyamai atau mengungguli Lancer Evo sebagai versi performa utama dari Lancer.

Membicarakan Mitsubishi memang ujung-ujungnya berakhir dengan kesedihan.

Perusahaan ini memang relatif kecil dibandingkan misal Toyota, Nissan dan Honda. Mereka mulai kewalahan dalam finansial dan mulai menutup mata pada varian performa mobil. Mitsubishi memutuskan merapat pada versi mobil yang lebih ‘ramah’ pada masyarakat umum dan ramah lingkungan. Ralliart sudah lama resmi ditutup pada 2010. Kemudian Lancer Evo pun dinyatakan dihentikan dan kabarnya akan berubah wujud menjadi model mobil lainnya, entah itu SUV atau apalah itu yang konon kabarnya juga bermesin diesel atau hybrid/EV.

Meskipun Ralliart telah ditutup, Mitsubishi tetap memegang kepemilikan brand Ralliart. Jadi ya bisa saja mereka menggunakan nama Ralliart ini untuk hal lainnya di masa mendatang.

TEAM RALLIART NZ – MITSUBISHI MOTORSPORTS

Suzuki – Suzuki Sport Racing

Bila Subaru yang awalnya pabrik part pesawat, kemudian mulai membuat mobil, masih agak nyambung. Sama halnya seperti Yamaha yang awalnya pembuat piano, Suzuki ini dulunya pembuat mesin tenun. Namanya Suzuki Loom Works yang didirikan pada 1909.

Sukses dengan mesin tenunnya, mereka tergiur mencoba bisnis baru yang mulai merebak, mobil. Namun sayangnya, pasca perang dunia ke-2 produksi mereka terhenti kebijakan pemerintah saat itu. Kembali, mereka membuat mesin tenun lagi.

Kembali mendapat ujian, pada 1951 pasar kain jatuh dan bisnis mereka pun turut terganggu. Suzuki memutuskan kembali pada otomotif. Kali ini dalam bentuk sepeda motor. Usaha kali ini cukup langgeng dan sukses. Darisana mereka pun kemudian merambah juga ke produksi mobil.

Suzuki ini sama seperti Mitsubishi, mereka adalah perusahaan yang tidak sebesar rekan-rekan senegaranya. Fokus mereka ada pada mobil city car, mobil kecil (supermini) dan SUV 4×4. Dibanding perhatiannya ke motor, untuk mobil, Suzuki tidak terlalu berambisi dalam urusan varian performa. Kembali, karena kapasitas dan positioning perusahaan mereka tadi.

Untuk in-house tuning, Suzuki memiliki divisi bernama Suzuki Sport Racing. Tetapi, divisi ini memiliki fokus utama pada motorsport dibandingkan membuat part atau varian performa dari model komersial Suzuki. Untuk part-part performa, Suzuki Sport bekerja sama dengan Monster Sport.

Monster Sport adalah brand performa yang berasal dari perusahaan bernama Tajima Motor Corporation. Perusahaan ini didirikan oleh mantan pembalap dan manager tim Suzuki bernama Nobuhiro Tajima yang memiliki julukan Monster (Monsuta Tajima).

SUZUKI SPORT
MONSTER SPORT

Daihatsu – D Sport

Ingat Daihatsu, ingat Xenia. Bila kita ingat-ingat lagi mobil Daihatsu lainnya seperti Hijet, Gran Max, Luxio kita akan merasakan positioning produsen ini lebih ke mobil komersial yang menunjang aktifitas dan kebutuhan harian masyarakat. Bahkan mereka memiliki model “Friendship Series” yang merupakan mobil-mobil keluarga khusus untuk orang jompo atau cacat.

Lineup mobil Daihatsu memang berupa mobil kecil, SUV, MPV, van, minibus dan truk. Mobil performa? Tidak ada. Daihatsu Copen? Itu bukanlah mobil performa.

Jadi saya kadang suka agak geli sendiri ketika melihat Xenia modif2 resing. Duh itu Daihatsu mau ngapain? haha

Tapi jangan salah. Daihatsu ini punya in-house tuning bernama D Sport. Divisi yang memiliki warna identitas kuning hitam ini memproduksi part-part modifikasi untuk mobil Daihatsu. Tapi ya, untuk saat ini kebanyakan part nya belum berhubungan dengan performa terutama sektor mesin. Jadi hanya seputar asesoris dan visual (aero/ eksterior). Part performa baru berupa sway bar, exhaust, suspensi dan brake part. Itupun hanya untuk beberapa model mobil saja.

Kembali Daihatsu yang merupakan anak Toyota ini memang produsen yang fokus utama mobil komersial harian. Dan sepertinya kedepannya pun tidak akan banyak berubah.

D SPORT

Lexus – Lexus F (F Sport)

Sebagaimana kita ketahui Lexus merupakan divisi dari Toyota untuk mobil-mobil luxury alias kelas premium. Sebagaimana halnya Acura dari Honda atau Infiniti dari Nissan. Bagaimana dengan Scion? Scion juga merupakan divisi dari Toyota untuk mobil-mobil sporty dan stylish tetapi targetnya terutama ke kalangan muda. Scion pun hanya memiliki market US dan Canada dan sudah resmi tutup pada 2016.

Nah, dibandingkan Acura dan Infiniti, Lexus ini memiliki penjualan yang sangat baik. Lexus tercatat sebagai produsen mobil kelas premium Jepang terbesar. Mereka juga memiliki perhatian yang besar pada balap mobil dan pengembangan performa mobil. Sejak 1999, Lexus telah mengikuti berbagai macam kejuaraan balap profesional dunia.

In-house tuning Lexus bernama Lexus F yang merupakan divisi spesialis pengembangan performa. F ini berasal dari “Fuji Speedway“, sirkuit yang dijuluki “Temple of Speed” yang memang telah lama menjadi pusat motorsport di Jepang.

Lexus F mengembangkan varian performa dari model-model komersial Lexus. Tidak jarang kode F ini diartikan juga sebagai “flagship”. Sebut saja seperti Lexus IS F, Lexus GS F dan Lexus RC F. Mereka juga tentunya menangani pembuatan supercar Lexus yang terkenal dengan suara V10nya yang iconic, Lexus LFA.

Lexus F juga mengembangkan dan menjual part-part performa untuk model Lexus lainnya. Part performa yang diberi nama F Sport ini diantaranya exhaust, air filter, cold air intake, brake kit, suspensi, sway bar, bushing dan lainnya. Untuk beberapa part lainnya Lexus juga bekerjasama dengan in-house tuning Toyota, TRD.

LEXUS F PERFORMANCE USA
LEXUS F SPORT JAPAN

Demikian ulasan kali ini.

TRD, Nismo, Mugen, STI, Mazdaspeed, Ralliart, Suzuki Sport, D Sport, Lexus F. Sepertinya sudah semua in-house tuning dari produsen Jepang kita bahas ya. Isuzu? Hino? Sepertinya keduanya tidak ada dan tidak akan pernah ada in-house tuning nya hehe.

Kedepannya saya kepikiran juga untuk membuat ulasan mengenai in-house tuning produsen mobil Amerika dan Eropa. Ditunggu saja ya!

Mudah-mudahan ulasan ini selain untuk menambah wawasan otomotif kita juga bisa mengurangi jumlah pemasangan stiker/ emblem yang keliru lagi. Mobil KIA janganlah dipasang TRD, atau Honda dipasang Ralliart.

Ada tambahan atau komentar? In-house tuner mana yang paling kalian sukai?

Untuk ulasan dan bahasan mobil menarik lainnya, ikuti juga Instagram kita ya!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “TRD, Nismo, Mugen, dll: Kenali In-House Tuner Jepang”