Teknik Mengemudi: Yuk kenali Drag dan Slipstream!

Teknik Mengemudi: Yuk kenali Drag dan Slipstream!

Istilah slipstream atau kadang disebut juga drafting, merupakan salah satu hal yang sangat umum pada balapan. Pernah melihat di jalur lurus mobil dibelakang dapat melaju lebih cepat lalu menyusul mobil di depannya? Mobil di depannya serasa lebih lambat. Apakah karena mobil yang di depan performa mesinnya kurang dibanding yang dibelakangnya? Yaa bisa jadi juga, tapi belum tentu juga.

Bila kita hadirkan dua mobil dengan performa sama, mobil dibelakang pada jalur lurus akan mampu melesat lebih cepat dibanding mobil di depannya. Kenapa? karena adanya slipstream.

Pernah melihat video kelompok burung angsa yang terbang migrasi dengan formasi V? Nah, Ini juga ada hubungannya dengan adanya slipstream.

Berbicara mengenai slipstream akan erat kaitannya dengan yang namanya aerodinamis seperti drag, downforce, dan dirty air. Yang namanya aero, tidak akan terasa ketika kita mengemudi santai dalam kota. Ga akan ngepek. Tetapi jangan salah, apabila dalam kecepatan tinggi, apalagi dalam balapan, kesemuanya merupakan faktor penting. Itulah kenapa setup aero dalam balapan profesional sangatlah vital dan diperhitungkan dengan sangat cermat!

Kita mulai saja ulasan teknik mengemudi kali ini. Sudah siap kopinya?

Drag dan Aerodinamis

Teknik Mengemudi: Yuk kenali Drag dan Slipstream!

Drag atau hambatan dalam hal ini adalah hambatan udara ketika mobil kita melaju. Ah masa sih udara bisa menghambat? Ga percaya? Coba kalian pecahkan kaca depan mobil kalian lalu melaju 100km/jam. Rasakan udara yang menerpa kalian. Udara kencang itu akan semakin kencang mendorong kebelakang seiring dengan kecepatan mobil kita. Bayangkan tekanan udaranya saat mobil melaju 160 km/jam atau bahkan 240km/jam!

Itulah drag.

Tapi mobil kan berat. Masa sih ngepek? Pesawat malah lebih berat, dan berkat aliran udara ia bisa melayang terbang hehe.

Nah, meskipun menciptakan drag, aliran udara tersebut juga memiliki kegunaan. Selain menciptakan daya dorong kebelakang, dia juga menciptakan gaya dorong ke bawah atau downforce. Inilah yang membuat mobil tetap nempel dijalan, ga oleng atau bahkan melayang terbang. Tekanan kebawah meningkatkan grip atau cengkraman ban ke jalan. Semakin besar grip semakin cepat juga kita melaju!

Tapi balik lagi ke desainnya ya. Kalo di pesawat, dia didesain untuk menciptakn lift, sehingga bisa melayang. Kalo di mobil, dia didesain untuk downforce. Terkecuali mobil harian, rasanya tidak fokus-fokus amat pada desain aero. Kembali, karena ketika pemakaiannya untuk harian, aero tidak akan banyak berpengaruh.

Jadi, udara menciptakan drag yang menghambat tetapi juga menciptakan downforce yang meningkatkan grip. Inilah kenapa setup aerodinamis pada mobil performa atau mobil balap sangatlah penting. Tim engineer balap akan melihat karakteristik track. Bagaimana karakter lurusan dan belokannya. Pada lurusan kita ingin memperkecil drag agar mobil bisa melaju maksimal. Tetapi pada belokan justru kita butuh drag untuk meningkatan downforce yang mempengaruhi cengkraman ban saat berbelok.

Slipstream

Teknik Mengemudi: Yuk kenali Drag dan Slipstream!

Tadi sudah kita bahas mobil yang melaju menerpa udara yang menciptakan drag. Bagaimana misalnya ada mobil lain di belakangnya?

Mobil tersebut akan mendapat drag yang jauh lebih kecil dibanding mobil di depannya. Udara di depan bertabrakan dengan mobil di depan menyisakan area dengan tekanan rendah di belakang. Pada area ini, mobil di belakang bisa melaju lebih optimal dikarenakan hambatan udara yang lebih minim.

Inilah kenapa pada jalur lurus, mobil dibelakang akan bisa melaju lebih cepat dan digunakan untuk salah satu momen menyusul ketika balapan.

Untuk merasakan ini kita bisa coba dengan masuk kolam renang. Coba jalan di dalam air. Berat kan? Nah itu drag. Sekarang coba berjalan dibelakang orang yang berjalan didepan, pasti lebih ringan. Itulah slipstream.

Lho, lalu kenapa itu burung angsa terbang dalam bentuk V, bukan baris?

Berbeda dengan mobil, area slipstream di belakang angsa ini justru area yang dihindari. Kenapa bisa begitu, karena kepakan sayap angsa juga menciptakan aliran udara yang bentuknya alirannya melingkar. Area di belakang angsa udaranya kebawah sedangkan di samping belakangnya udaranya ke atas. Ok kita kehalangin udara didepan tetapi angin dari sayap burung di depan membuat kita terdorong kebawah.

Balik lagi ke mobil, lalu bagaimana saat akan mulai berbelok?

Mobil di depan memiliki drag yang besar sekaligus tentunya downforce yang meningkatkan grip ke jalan. Mobil di belakang? Dia memiliki drag yang kecil sehingga dapat melaju kencang tetapi downforcenya juga kecil sehingga kencang tetapi grip tidak sebesar mobil yang di depan. Apabila tidak hati-hati mobil yang kekurangan grip ini bisa understeer atau oversteer melintir!

Hal tersebut belum diperparah dengan adanya dirty air.

Dirty Air

Teknik Mengemudi: Yuk kenali Drag dan Slipstream!

Sesuai namanya, dirty air yang berarti udara kotor bisa juga kita sebut juga sebagai udara bekas atau sisa. Waduh bekas sisa siapa nih?

Udara yang ditabrak oleh mobil yang melaju berupa udara yang solid dan belum terganggu. Ketika mobil melaju dan menabrak udara ini, udara tersebut kemudian akan buyar dan pecah ke berbagai arah. Meskipun area belakang mobil yaitu slipstream memiliki tekanan udara yang rendah tetapi area lainnya dibelakang slipstream ini memiliki udara (atau angin) sisa tabrakan tadi yang arahnya sulit diprediksi alias acak-acakan.

Inilah yang disebut dirty air.

Angin yang bergelombang dengan arah yang tidak jelas ini akan berpengaruh buruk pada aerodinamis mobil yang mengenainya. Apalagi bila mobil tersebut memiliki piranti aerodinamis seperti sayap depan, sayang belakang atau splitter. Berbeda dengan drag yang meningkatkan downforce, dirty air membuat mobil kehilangan downforce dan juga membuatnya menjadi tidak stabil.

Yang paling apes adalah bila ketika melakukan manuver berbelok dan mendapatkan dirty air. Mobil kemudian sangat rentan untuk understeer atau oversteer melintir.

Dirty air juga dipercaya memiliki pengaruh buruk bagi mesin dikarenakan mengganggu performa mesin dan cooling system. Udara sisa dari mobil dari depan ini dipercaya memiliki suhu yang lebih tinggi dan juga memiliki kandungan oksigen yang lebih sedikit dari udara normal.

Tapi kabar gembiranya, fenomena dirty air ini hanya akan sangat berpengaruh pada mobil balap yang benar-benar mengandalkan aerodinamis dan downforce seperti Formula 1.

Untuk penutup mari kita lihat record kecepatan sepeda 300 km/jam berkat adanya slipstream!

Demikian ulasan kali ini.

Slipstream memberikan keuntungan drag yang lebih rendah sehingga meningkatkan akselarasi dan top speed. Inilah salah satu cara menyusul yang sangat umum dalam balapan ketika di jalur lurus. Teknik ini juga sering digunakan untuk hypermiling alias menghemat BBM. Slipstream dilakukan untuk mengurangi kerja mesin yang artinya mengurangi energi yang digunakan.

Ada tambahan atau komentar? Sudah ada yang pernah melakukan teknik slipstream ini?

Untuk ulasan dan bahasan mobil menarik lainnya, ikuti juga Instagram kita ya!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Teknik Mengemudi: Yuk kenali Drag dan Slipstream!”